Rabu, 09 Desember 2009

DISAIN PEMBELAJARAN

A. PENDAHULUAN

Ada beberapa definisi tentang perencanaan yang rumuskannya berbeda-beda satu dengan yang lain. Cunningham1) misalnya mengemukakan bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian. Perencanaan di sini menekankan pada usaha menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya. Apa wujud yang akan datang itu dan bagaimana usaha untuk mencapainya merupakan perencanaan.

Definisi yang kedua mengemukakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang (what is) dengan bagaimana seharusnya (what should be) yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program, dan alokasi sumber.2) Bagaimana seharusnya adalah mengacu pada masa yang akan datang. Perencanaan di sini menekankan kepada usaha mengisi kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan, ialah menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan mendatang yang diinginkan.

Sementara itu definisi yang lain tentang perencanaan dirumuskan sangat pendek, perencanaan adalah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan perubahan.3) Dalam definisi ini ada asumsi bahwa perubahan selalu terjadi. Perubahan lingkungan ini selalu diantisipasi, dan hasil antisipasi ini dipakai agar perubahan itu berimbang. Artinya perubahan yang terjadi di luar organisasi pengajaran tidak jauh berbeda dengan perubahan yang terjadi pada organisasi itu, dengan harapan agar organisasi tidak mengalami keguncangan. Jadi, makna perencanaan di sini adalah usaha mengubah organisasi agar sejalan dengan perubahan lingkungannya.

Ketiga definisi di atas memperlihatkan rumusan dan tekanan yang berbeda. Yang satu mencari wujud yang akan datang serta usaha untuk mencapainya, yang lain menghilangkan kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan masa mendatang, dan yang satu lagi mengubah keadaan agar sejalan dengan keadaan lingkungan yang juga berubah-ubah. Meskipun demikian pada hakikatnya ketiganya bermakna sama, yaitu sama-sama ingin mencari dan mencapai wujud yang akan datang, tetapi yang pertama dan kedua tidak dinyatakan secara eksplisit bahwa wujud yang dicari itu akibat terjadinya perubahan, termasuk perubahan dalam cita-cita.

Berdasarkan rumusan di atas, dapat dibuat rumusan baru tentang apa itu perencanaan. Perencanaan yakni suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

B. ANALISIS PEMBAHASAN

1.Perencanaan Pembelajaran

Pembelajaran menurut Degeng4) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implicit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.

Konsep pembelajaran yang dipakai dalam buku ini memiliki maksud yang sama dengan konsep pembelajaran yang telah disusun sebelumnya (Uno, Hamzah: 1998).5) dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “apa yang dipelajari siswa”.6) Adapun perhatian terhadap apa yang dipelajari siswa merupakan bidang kajian dari kurikulum, yakni mengenai apa isi pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar dapat tercapainya tujuan. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar tercapai tujuan tersebut. Dalam kaitan ini hal-hal yang tidak bias dilupakan untuk mencapai tujuan adalah bagaimana cara mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajarn yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.

Pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancangnya agar rencana pembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran. Untuk itu pembelajaran sebagaimana disebut oleh Degeng (1989)7), Reigeluth (1983)8) sebagai suatu disiplin ilmu menaruh perhatian pada perbaikan kualitas pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran deskriptif, sedangkan rancangan pembelajaran mendekati tujuan yang sama dengan berpijak pada teori pembelajaran preskriptif.

2.Dasar Perlunya Perencanaan Pembelajaran

Perlunya perencanaan pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas, dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut:

1. untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran;

2. untuk merencakan suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan system;

3. perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar;

4. untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perorangan;

5. pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini akan ada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran;

6. sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar;

3. Perbaikan Kualitas Pembelajaran

Perbaikan kualitas pembelajaran haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Hal ini mungkin karena dalam desain pembelajaran, tahapan yang akan dilalui oleh guru atau dosen dalam mengajar telah terancang dengan baik, mulai dari mengadakan analisis dari tujuan pembelajaran sampai dengan pelaksanaan evaluasi sumatif yang tujuannya untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

4. Pembelajaran dirancang dengan Pendekatan Sistem

Untuk mencapai kualitas pembelajaran, disain pembelajaran yang dilakukann haruslah didasarkan pada pendekatan sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan sistem, akan memberikan peluang yang lebih besar dalam mengintegrasikan semua variabel yang mempengaruhi belajar, termaksud keterkaitan antarvariabel pengajaran yakni variabel kondisi pembelajaran, variabel metode, dan variabel hasil pembelajaran.

5. Disain Pembelajaran Mengacu pada Bagaimana Seseorang Belajar

Kualitas pembelajaran juga tergantung pada bagaimana pembelajaran itu dirancang. Rancangan pembelajaran biasanya dibuat berdassarkan pendekatan perancangnya. Apakah bersifat intuitif atau bersifat ilmiah. Jika bersifat intuitif, rancangan pembelajaran tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perancangnya. Akan tetapi, jika dibuat berdasarkan pendekatan ilmiah, rancangan pembelajaran tersebut diwarnai oleh berbagai teori yang dikemukakan oleh para ilmuan pembelajaran. Disamping itu, pendekatan lain adalah pembuatan rancangan pembelajaran bersifat intuitif ilmiah yang merupakan paduan antara keduanya, sehingga rancangan keduanya yang dihasilkan disesuaikan dengan pengalaman empiris yang pernah ditemukan pada saat melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan pula dengan penggunaan teori-teori yang relevan. Berdaarkan tiga pendekatan ini, pendekatan intuitif ilmiah akan dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih sahih dari dua pendekatan lainnya bila hanya digunakan secara terpisah.

Berbagai teori yang telah dikembangkan mengenai belajar, misalnya teori behavioristik yang menekankan pada prilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori pengelolaan informasi yang menekankan pada bagaimana suatu informasi itu diolah dan disimpan dalam ingatan. Teori ketiga berpijak pada psikologi kognitif yang memandang bahwa proses belajar adalah mengaitkan pengetahuan baru ke struktur pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, dan hasil belajar berupa terbentuknya struktur pengetahuan baru yang lebih lengkap.

6. Disain Pembelajaran Diacukan pada Siswa Perorangan

Seseorang belajar memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Tindakan atau prilaku belajar dapat ditata atau dipengaruhi, tetapi tindakan atau prilaku belajar itu akan tetap berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat dalam berpikir, tidak mungkin dapat dipaksa segera bertindak secara cepat. Sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi tidak mungkin dipaksa bertindak dengan cara lambat. Dalam hal ini jika perencanaan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang belajar seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siapa yang lambat belajar akan makin tertinggal dan yang cepat berpikir makin maju pembelajarannya. Akibat proses pembelajaran yang dilakukan dalam suatu kelompok tertentu akan banyak mengalami hambatan karena perbedaan karakteristik siswa yang tidak diperhatikan. Hal lain yuang merupakan karakteristik siswa adalah perkembangan intelektual siswa, tingkatan motivasi, kemampuan berpikir, gaya kognitif, gaya belajar, kemampuan awal, dan lain-lain. Berdasarkan karakteristik ini, maka rancangan pembela mau tidak mau harus diacukan pada pertimbangan ini.

  1. Disain Pembelajaran Harus Diacukan pada Tujuan

Hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil tak langsung (pengiring). Perancangan pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang langsung dapat diukur setelah selesai pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran yang dapat terukur setelah melalui keseluruhan proses pembelajaran, atau hasil pengiring. Perancang pembelajaran seringkali merasa kecewa dengan hasil nyata yang dicapainya karena ada sejumlah hasil yang tidak segera bias diamati setelah pembelajaran berakhir terutama hasil pembelajaran yang termaksud dalam ranah sikap. Padahal ketercapaian ranah sikap biasanya terbentuk secara kumulatif dan dalam waktu yang relative lama terintegrasi keseluruhan hasil langsung pembelajaran.

8. Disain Pembelajaran Diarahkan pada Kemudahan Belajar

Sebagaimana disebut di atas, pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa dan perancangan pembelajaran merupakan penataan upaya tersebut agar muncul prilaku belajar. Dalam kondisi yang ditata dengan baik, strategi yang direncanakan akan memberikan peluang dicapainya hasil pembelajaran. Disamping itu, peran guru sebagai sumber belajar telah diatur secara terencana, pelaksanaan evaluasi baik formatif maupun sumatif telah terencana, memberikan kemudahan siswa untuk belajar. Dengan desain pembelajaran, setiap kegiatan yang dilakukan guru telah terencana, dan guru dapat dengan mudah melakukan kegiatan pembelajaran. Jika hal ini dilakukan dengan baik, sudah tentu sasaran akhir dari pembelajaran adalah terjadinya kemudahan belajar siswa dapat dicapai.

9. Disain Pembelajaran Melibatkan Variabel Pembelajaran

Disain pembelajaran diupayakan mencakup semua variabel pembelajaran yang dirasa turut mempengaruhi belajar. Ada tiga variabel pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran. Ketiga variabel tersebut adalah variabel kondisi, metode, dan variabel hasil pembelajaran.Kondisi pembelajaran mencakup semua variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh perencana pembelajaran, dan harus diterima apa adanya. Yang masuk dalam variabel ini adalah tujuan pembelajaran, karakteristik bidang studi, dan karakteristik siswa. Adapun variabel metode pembelajaran mencakup semua cara yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu. Yang masuk dalam variabel ini adalah strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Adapun variabel hasil pembelajaran mencakup semua akibat yang muncul dari penggunaan metode pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajaran, efisiensi pembelajaran, dan daya tarik pembelajaran.

  1. Disain Pembelajaran Penetapan Metode untuk Mencapai Tujuan

Inti dari desain pembelajaran adalah menetapkan pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Fokus tama perancangan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan variable metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran harus didasarkan pada analisis kondisi dan hasil pembelajaran. Analisis akan menunjukkan bagaimana kondisi pembelajarannya, dan apa hasil pembelajaran yang diharapkan. Setelah itu, barulah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran yang diambil dari setelah perancang pembelajaran mempunyai informasi yang lengkap mengenai kondisi nyata yang ada dan hasil pembelajaran yang diharapkan.

Adfa tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan metode pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut adalah (1) tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam semua kondisi,(2) metode (strategi) pembelajaran yang berbeda memiliki pengeruh yang berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran, dan (3) kondisi pembelajaran bias memiliki pengaruh yang konsisten pada hasil pengajaran.

C. Disain Pembelajaran Menurut Dick and Carrey

Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisir pengajaran. Satu di antara model itu adalah model Disk and Carrey (1985) dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. mengidentifikasi tujuan umum pengajaran :

2. melaksanakan analisis pengajaran;

3. mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;

4. merumuskan tujuan performansi;

5. mengembangkan butir-butir tes acuan patokan;

6. mengembangkan strategi pengajaran;

7. mengembangkan dan memilih material pengajaran;

8. mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif;

9. merevisi bahan pembelajaran;

10. mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif;

Visualisasi langkah di atas, dapat dilihat pada Gambar 4.1.









Model Dick and Carrey

Tidak ada suatu model rancangan pengajaran yang dapat memberikan resep yang paling ampuh untuk mengembangkan suatu program pengajaran. karena itu untuk menentukan model rancangan dalam mengembangkan suatu program pengajaran tergantung pada pertimbangan si perancang tersebut terhaapdap model yang akan digunakannya atau dipilihnya. Dari sekian banyak model untuk mengembangkan program pengajaran yang telah dikenal, misalnya model Kemp (1977), model Dick and Carrey (1985), model Briggs (1977), model Gagne, dkk. (1988),model IDI (1971), model Degeng (1990), dan masih banyak lagi model lain yang pada dasarnya mempunyai cirri-ciri yang sama. Perbedaan hanya terletak pada bagian-bagian tertentu saja, yang dimodifikasi oleh penyusun model tersebut sesuai dengan keperluan si penyusun model. Demikian juga halnya dengan desain pembelajaran mata pelajaran tertentu ini, di mana model desain yang digunakan misalnya model Dick and Carrey, tentu perancang desainnya memiliki alas an tersendiri. Secara umum penggunaan Desain Pengajaran menurut Dick and Carrey adalah sebagai berikut.

  1. Model Dick and Carrey terdiri atas 10 langkah di mana setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya, sehingga bagi peerancang pemula sangat cocok sebagai dasar ntuk mempelajari model desain yang lain.
  2. Kesimpulan langkah pada model Dick and Carrey menunjukkan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya. Dengtan kata lain, system yang terdapat pada Dick and Carrey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
  3. Langkah awal pada model Dick and Carrey adalah mengidentifikasi tujuan pengajara. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi mupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu dimana tujuan pengajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan uatu rancangan pembelajaran.

Penggunaan model Dick and Carrey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar (1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pengajaran, (2) adanya pertautan antara tiap komponen khususnya antara strategi pengajaran dan hasil pengajaran yang dikehendak, (3)menerapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran. Dari 10 langkah model Dick and Carrey, ada delapan kotak yang terhubung dari suatu garis utama yang memperlihatkan balikan dari kotak terakhir ke kotak yang terdahulu. Kotak-kotak itu mengacu ke perangkat-perangkat prosedur dan teknik yang dipakai untuk merancang, memproduksi, menilai, dan merevisi pengajaran. Berikut ini akan dijelaskan langkah demi langkah yang telah ditetapkan oleh Dick and Carrey.

1. Mengidentifikasi Tujuan Umum Pembelajaran

Sebagaimana kita krtahui bahwa sasaran akhir dari suatu program pembelajaran adalah tercapainya tujuan umum pembelajaan tersebut.Oleh karena itu, setiap perancang harus mempertimbangkan secara mendalam tentang rumusan tujuan umum pengajaran yang akan ditentukannya. Mempertimbangkan secara mendalam artinya, untuk merumuskan tujuan umum pembelajaran harus mempertimbangkan krakteristik bidang studi, karakteristik siswa, dan kondisi lapangan.

Dick and Carrey (1985)21) menjelaskan bahwa tujuan pengajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Di dalam buku Akta Mengajar V (Depdikbud, 1982)22)tujuan pembelajaran sangat penting dalam proses instruksional atau dalam setiap kegiatan belajar mengajar, sebab tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara spesifik dan jelas, akan memberikan keuntungan kepada:

  1. Siswa untuk dapat mengatur waktu, dan pemusatan perhatian pada tujuan yang ingin dicapai:
  2. Guru untuk dapat mengatur kegiatan instruksionalnya, metodenya, dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut:
  3. Evaluator untuk dapat menyusun tes sesuai dengan apa yang harus dicapai oleh anak didik.

Rumusan tujuan umum pembelajaran menurut Dick and Carrey (1985) harus jelas dan dapat diukur, berbentuk tingkah laku. Pandangan lain seperti(Uno Hamzah, 1983;23) juga Miarso, 1984) mengemukakan rumusan pembelajaran yang baik adalah (menggunakan istilah yang operasional, (b) berbentuk hasil belajar, (c) berbentuk tingkah laku,(d) jelas hanyamengukur saatu tingkah laku. Pendapat lain dikemukakan Mudhofir (1990) rumusan tujuan pembelajaran yang baik (a) formasi dalam bentuk yang operasional , (b) bentuk produk belajar,(c) dalam tingkah laku si belajar, (d) jelas tingkah laku yang ingin dicapai, (e) hanya mengandung satu tujuan belajar, (f) tingkat keluasan yang sesuai, (g) rumusan kondisi pembelajaran jelas dan cantumkan standar tingkah laku yang dapat diterima . Adapun (Degeng, 1989; juga Uno Hamzah, 1993)mengemukakan ada tiga komponen utama dari suatu rumusan tujuan pembelajaran, yaitu perilaku, kondisi,dan derajat kriteria keberhasilan. Instruksional Development Institue (IDI) menambahkan satu komponen yang perlu lagi dispesifikasi dalam rumusan tujuan, yang sasaran (Audience). Selanjutnya komponen-komponen ini oleh Degeng (1989), Uno Hamzah (1993) untuk lbih mudah mengingatnya disebut dengan bantuan mnemonic ABCD ( Audience,Behavioral, Conditions, dan Degree).

D. Kesimpulan

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa desain pembelajaran menekankan pada upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara memilih dan meprekripsikan metode pembelajaran yang optimal. Upaya-upaya ini dilakukan dengan pijakan asumsi-asumsi tertentu tentang hakekat disain pembelajaran, seperti berikut ini :

(1) Perbaikan kualitas pembelajaran diawali dari disain pembelajaran.

(2) Pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem.

(3) Disain pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar.

(4) Disain pembelajaran diacukan kepada si-belajar secara perseorangan.

(5) Hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil pengiring.

(6) Sasaran akhir disain pembelajaran adalah memudahkan belajar.

(7) Disain pembelajaran mencakup semua variable yang mempengaruhi belajar.

(8) Inti disain pembelajaran adalah penetapan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Perbaikan kualitas pembelajaran diawali dari disain pembelajaran. Perancang pembelajaran dapat dijadikan titik awal upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Ini berarti bahwa perbaikan kualitas pembelajaran haruslah diawali dari perbaikan kualitas disain pembelajaran.

Pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem. Di samping landasan yang menjadi pijakannya, kualitas pembelajaran juga amat ditentukan oleh pendekatan yang dipakai dalam merancangnya. Dengan menggunakan pendekatan sistem akan memperbesarr peluang dalam mengintegrasikan semua variable yang mempengaruhi belajar dalam disain pembelajaran. Dengan melakukan analisis sistem pembelajaran akan dapat diketahui keseluruhan variable tersebut. Informasi ini amat berguna dalam menetapkan langkah-langkah perancang pembelajaran.

Disain pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar. Kualitas pembelajaran amat banyak bergantung pada bagaimana pembelajaran itu dirancang. Bagaimana landasan pengembangnya : intuitifkah, ilmiahkah, atau intuitif ilmiah? Disain pembelajaran yang menggunakan landasan intuitif terpijak kepada kemampuan intuisi perancangnya, sedangkan yang menggunakan landasan ilmiah lebih mengandalkan pada pengetahuan ilmiah atau teori-teori yang telah dikembangkan oleh ilmuwan. Pengembangan disain pembelajaran yang menggunakan landasan intuitif-ilmiah berpijak pada kemampuan intuisi perancangnya dengan dukungan landasan ilmiah yang sahih. Landasan ilmiah yang dipakainya biasanya adalah pengetahuan-pengetahuan ilmiah atau teori-teori belajar dan pembelajaran yang telah dikembangkan oleh ilmuwan pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar